- Sajikan Menu Takjil Kurma dan Air Zam-zam
MASJID Al Fairus di Jalan Raya Pantura Baros, Pekalongan Timur disebut-sebut bangunannya mirip dengan Masjid Nabawi. Tak hanya itu, nuansa ramadannya juga tak jauh berbeda dengan masjid kebanggaan umat Islam se-dunia di Madinah tersebut serta jarang dijumpai di tempat-tempat ibadah lainnya.
Yayasan Al Fairus yang dipimpin H Abdullah Machrus itu memang sengaja membangun masjid dengan konsep bangunan Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan inspirasinya didapat saat menunaikan ibadah haji di tanah suci serta berkesempatan shalat di masjid tersebut.
Karena itu, awal tahun 2000 di Jalur Pantura Pekalongan dibangun masjid mirip Masjid Nabawi. Sejak Ramadan tahun lalu sampai tahun ini, nuansanya di bulan penuh berkah dan ampunan tempat ibadah tersebut
juga disesuaikan dengan aslinya, walaupun tidak sama persis.
Saat buka puasa tiba, takmir masjid menyediakan hidangan pembatal ibadah wajib dengan menu berbeda dengan masjid atau mushala lainnya.
Di tempat lain biasanya berupa kolak, minuman manis dan sebagainya khas Ramadan, tapi di Masjid Al Fairus disediakan kurma serta air zam-zam yang didatangkan langsung dari negara asalnya.
Menurut H Abdullah Machrus yang juga pemilik Batik Mahkota Agung, sebelum datang bulan Ramadan, dia memesan air zam-zam dari Makah dan buah kurma dari Madinah.
Karena tahun lalu sudah pernah memesan dalam jumlah banyak, tahun ini kebutuhan takjil tersebut bisa didapatkan dengan mudah.
Untuk bisa memenuhi kebutuhan selama sebulan, telah disediakan 30 galon air zam-zam dan 100 kg buah kurma. Jumlah tersebut melihat kebutuhan tahun lalu sebanyak 27 galon zam-zam serta 90 kg kurma.
50-100 Orang
”Memang kami sengaja membuat masjid ini seperti Nabawi, baik dari bangunan maupun kebiasaan, seperti saat Ramadan menyajikan menu takjil zam-zam dan kurma. Karena tahun lalu sudah dimulai, sekarang kami sudah dapat memperkirakan kebutuhannya dengan melakukan penambahan jumlah karena antusiasme masyarakat besar,” katanya.
Jika terjadi kekurangan, Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengaku akan mendatangkan lagi karena sudah mengenal pengirimnya dan dapat dihubungi melalui telepon.
”Insyaallah tidak akan kurang, kalau memang kurang saya tetap akan mengusahkan supaya didatangkan lagi. Kebetulan pengirimnya saya sudah kenal dan bisa mendatangkan kapan saja sesuai kebutuhan,” tandas dia.
Untuk sehari selama bulan Ramadan ini, takjil disediakan untuk 50-100 orang dan jumlahnya akan ditambah saat terjadi arus mudik Lebaran karena banyak yang mampir lantaran lokasinya berada di jalur Pantura serta tak jauh dari terminal Pekalongan.
Agar pendirian masjid sesuai dengan konsep, maka tradisi takjil rasa Nabawi akan diusahakan dapat dilangsungkan secara terus menerus. ”Niatnya hanya satu ibadah menyediakan buka puasa ringan untuk umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Hanya saja disesuaikan konsep,” ungkap dia.(Nur Khaeruddin-17)
(/)
agi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com