Pages

Thursday, July 7, 2011

Kurma dan Zam-zam di Masjid Al Fairuz



Masjid Al Fairuz di Jalan Dr Soetomo, Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (7/7/2011).
PEKALONGAN, KOMPAS.com - Ingin buka puasa ala Masjid Nabawi, Jedah, Arab Saudi? Mampirlah ke Masjid Al Fairuz, Pekalongan. Setiap puasa, masjid ini menyediakan buka bersama kurma dan air zam-zam.
Masjid ini memang baru. Dibangun mulai 2004 oleh pengusaha batik Pekalongan, H Abdullah Machrus. Meski belum jadi 100 persen, namun masjid ini sudah bisa dipakai beribadah sejak 2004.
Arsitektur masjid ini berkiblat ke Masjid Nabawi, Jedah, Arab Saudi. Maka, saat berbuka puasa pun mengikuti cara berbuka di Masjid Nabawi.
Berdiri di lahan 7.000 meter persegi, masjid ini amat megah dan mewah. Pelataran parkir pun luas. Sehingga, banyak para pelancong yang datang di sini. Apalagi, di sampingnya dibangun kios-kios, terutama menjual batik Pekalongan. Masjid ini juga bisa menampung 2.000 jemaah.
Sejak 2007, pelataran juga digunakan untuk pusat kuliner setiap bulan Ramadhan. Sehingga, masjid ini menjadi tujuan wisata baru, selain tepat ibadah.
Keunikan dalam berbuka puasa membuat masjid ini semakin populer dan menarik warga, termasuk pendatang. Pihak masjid menyediakan 30 galon air zam-zam dan 30 dos kurma yang didatangkan dari Arab Saudi. Sehingga, jemaah bisa berbuka puasa ala Masjid Nabawi, menyantap kurma dan meminum air Zam-zam.
Editor :
I Made Asdhiana

Friday, August 27, 2010

Menikmati Kurma dan Zamzam Langsung dari Arab

Djati Dharma
27/08/2010 15:33
Liputan6.com, Pekalongan: Kurma dan air zam-zam adalah menu berbuka puasa yang biasa bagi sejumlah umat Islam. Tapi bedanya di Masjid Al Fairus, Pekalongan, Jawa Tengah, warga menikmati ta'jil kurma dan zam-zam langsung didatangkan dari tanah Arab. Tapi ini cuma diberikan bagi warga selama Ramadan.

Masjid Al Fairus terletak di sepanjang jalur Pantai Utara Pekalongan. Masjid ini memiliki bentuk mirip dengan Masjid Nabawi, Arab Saudi. "Karena kami menginginkan supaya masyarakat Pekalongan yang belum pernah pergi ke Masjid Nabawi, biar tahu bahwa inilah duplikat nabawi," tutur Abdullah, pengurus Masjid Al Fairus, Jumat (27/8).

Menurut Abdullah, selain arsitektur masjid bagian lain yang mengadopsi Masjid Nabawi adalah bagian kubah dan menaranya. Bentuk kecintaan terhadap Masjid Nabawi juga menjadi alasan lain gaya masjid ini dibentuk.(AIS)

Tuesday, August 17, 2010

Menikmati Takjil Ala Timur Tengah di Masjid Pekalongan

Selasa, 17/08/2010 14:07 WIB
Dani Wisnu - detikRamadan


Pekalongan - Petang itu seperti biasa ratusan orang memadati Masjid Al Fairus Pekalongan. Mereka tekun menyimak pengajian. Menjelang maghrib takjil dibagikan kepada jamaah. Hmm takjilnya sangat khas Timur Tengah, yakni kurma dan air zam-zam.

Pemandangan itu terlihat setiap petang selama Ramadan di Masjid Al Fairus, Jalan Raya Baros, Pekalongan, Jawa Tengah. Kurma yang disajikan didatangkan langsung dari Madinah. Sedangkan air zam-zamnya asli dari Makkah.

Yayasan Al Fairus yang dipimpin H Abdullah Machrus sengaja membangun masjid dengan meniru konsep bangunan Masjid Nabawi di Madinah. Gagasan itu didapat kala menunaikan ibadah haji di Tanah Suci serta berkesempatan salat di Masjid Nabawi. Persis awal tahun 2002, di Jalur Pantura Baros, Pekalongan dibangunlah masjid seluas 1600 meter persegi itu.

Masjid yang terletak di jalur pantura, bersebelahan dengan terminal bus Kota Pekalongan itu memiliki toilet dan tempat wudhu yang berada di bawah tanah. Konstruksi semacam itu merupakan ciri khas Masjid Timur Tengah.

Suasana Timur Tengah semakin terasa dengan hadirnya sajian buka puasa dari negara-negara Arab. Hal itu sangat berbeda dengan masjid lain yang biasanya memberikan takjil berupa kolak dan minuman manis lainnya.

"Saya mengumumkan kepada warga sini, silakan menikmati takjil di Masjid Al Fairus. Berapapun banyaknya warga yang datang akan dilayani. Ini sudah niat kita untuk bersedakah," tutur takmir masjid, Abdullah Machrus.

( vit / vit )

Tuesday, September 15, 2009

Pemudik Akan Dimanjakan Pesta Kuliner





Di tempat itu takmir masjid bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) setempat membuka pesta kuliner.



Menu-menu khas Kota Pekalongan, mulai nasi megono, soto dan sebagainya akan disiapkan para pedagang di sekitar tempat rest area Masjid Al Fairus. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan makan bagi pemudik, sekaligus mengenal kuliner khas daerah.



Ketua Takmir Masjid H Abdul Manan menyebutkan, keberadaan masjid di bawah naungan Yayasan Al Fairus dengan lahan sangat luas serta berada di jalur Pantura Jakarta-Surabaya, membuat pihaknya berinisiatif untuk membuka rest area menjamu para pemudik  yang kelelahan.



”Sejak dua tahun terakhir, kami membuka rest area di sini, tahun kemarin antusiasme pemudik untuk beristirahat di masjid sangat tinggi, sebab lahan yang luas membuat mereka leluasa dalam parkir, kemudian saat istirahat tidak mengganggu kegiatan ibadah,” katanya.

Kemudahan


Tak hanya itu keberadaan tempat wudlu dan persediaan air dengan lokasi bawah tanah di luar masjid juga memberikan kemudahan bagi pemudik untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 
Melihat antusias pemudik tersebut, 



Ketua Yayasan Al Fairus H Abdullah Machrus menambahkan, pihaknya tahun ini mencoba menggandeng Disperindagkop untuk membuka pesta kuliner.



”Alhamdulillah sambutannya bagus sekali dan kami dipinjami beberapa tenda pedagang makanan. Sekarang ini pemudik sudah mulai berdatangan dan mereka bisa menikmati pesta kuliner serta suasana nyaman di Masjid Al Fairus,” tambah dia.



Lebih lanjut dijelaskan, selain pesta kuliner, di rest area tersebut juga disediakan pijat batu giok, kemudian toko-toko penjual berbagai busana muslim serta lainnya juga telah siap menyambut pemudik. (Nur Khaeruddin-52) (/

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com 

Tuesday, August 25, 2009

Dijadikan Rest Area sampai Lebaran

 0
 0

LAHAN cukup luas di Masjid Al Fairus -yang menyerupai Masjid Nabawi di Madinah- berfungsi  sebagai lokasi rest area. Tidak hanya untuk para musyafir yang akan menunggu waktu buka puasa saja. 


Tapi juga disiapkan sampai pada saat arus mudik dan balik lebaran mendatang.

Lokasi di tengah-tengah jalur Pantura Kota Pekalongan membuat masjid di bawah naungan Yayasan Al Fairus tersebut sangat diminati oleh pengunjung luar daerah. Pasalnya, berada pada daerah titik lelah perjalanan Jakarta-Surabaya.

Seperti terlihat kemarin, menjelang waktu buka puasa, warga setempat dan pengunjung dari luar daerah yang mampir ke masjid itu terpesona dengan sajian dan nuansa bangunannya.

Tak hanya kagum dengan bangunan masjid yang hampir rampung pembangunannya. Tapi bangunan di depan masjid bertuliskan tempat wudlu pria dan wanita juga menarik perhatian.

Sebab, selain lokasi tempat wudlu di dalam masjid, di luar juga ada bangunan tempat wudlu cukup unik karena berada di bawah tanah.

”Masjidnya bagus, lahan cukup luas, jadi terlihat plong, trus ada tempat wudlu di bawah tanah juga,” kata Bambang, salah seorang pengunjung dari Batang.

Sengaja Disuguhkan

Menunggu detik-detik kumandang adzan magrib, pengunjung masjid telah duduk rapi di bagian depan dan di hadapan mereka terdapat buah kurma, air zam-zam, kolak pisang serta air mineral yang sengaja disuguhkan sebagai menu takjil pembatal puasa, sebelum mengikuti shalat maghrib berjamaah.

Ketua Takmir Masjid Al Fairus H Abdul Manan mengatakan, sejak beberapa tahun lalu pihaknya memang sudah menggelar takjil ala Nabawi, kemudian menjadikan lokasi sebagai rest area.

”Setiap hari memang di sini dijadikan tempat peristirahatan, tapi di bulan Ramadan kami memberikan sambutan berbeda untuk menghormati mereka yang akan berpuasa dan agar lebih meramaikan masjid sebagai tempat ibadah,” tandas dia.

Selain menyediakan takjil dan rest area bagi pengunjung, juga diselenggarakan pengajian rutin berkala.

”Di sini juga ada pengajian-pengajian membahas masalah agama,” kata Abdul Manan. (Nur Khaeruddin-47) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com

Saturday, August 22, 2009

Ramadhan Ala Nabawi Masjid Al-Fairus (1) Siapkan Takjil Kurma dan Zam-zam Asli


22 Agustus 2009

 0
 0
MARHABAN ya Ramadhan, mari kita ramaikan masjid untuk melakukan kegiatan ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu tempat ibadah yang bisa dijadikan acuan di Kota Pekalongan adalah Masjid Al Fairus.

Konsep bangunan masjid di Jalan Raya Pantura, Baros, Pekalongan Timur yang menyerupai Masjid Nabawi di Madinah tersebut, selama bulan Ramadan tak pernah absen untuk menyuguhkan nuansa asli Nabawi.

Ketua Yayasan Al Fairus H Abdullah Machrus mengatakan setiap Ramadan pihaknya menggelar kegiatan takjil menu buka puasa bagi pengunjung.

Tak tanggung-tanggung, karena mengangkat nuansa Timur Tengah, hidangan mengikuti tema, yakni buah kurma asli dari Madinah dan air zam-zam asli Makah.

Rencananya, Ramadan sekarang ini akan disediakan sekitar 40 galon air zam-zam dan 100 kg buah kurma. “Sebab tahun lalu kita habis sampai 30 galon, kemudian 100 kg kurma, walaupun tersisa dan ada yang dibagikan. Sekarang rencananya kami akan menambah pasokan tersebut,” katanya.

Nuansa Nabawi saat berbuka puasa tersebut sudah dilakukan takmir masjid setempat selama tiga tahun sampai sekarang. Tak hanya zam-zam dan kurma saja, menu khas tanah air juga disajikan sebagai pendamping yakni kolak serta minuman manis.

H Abdullah Machrus yang juga pemilik Batik Mahkota Agung menambahkan, sebelum datang bulan Ramadan, dia memesan air zam-zam dari Makah dan buah kurma dari Madinah.

“Karena tahun lalu kegiatan takjil di tempat kami ini sangat diminati, tahun ini banyak yang menjadi donatur untuk penyediaan zam-zam dan kurma asli. Insyaallah, semuanya dijamin asli, tidak ada campuran setetes pun,” tandas dia.

Untuk itu, dia mengharapkan warga atau musyafir yang kebetulan melintas saat waktu berbuka tiba, agar tidak ragu mampir lantaran semua menu disajikan dalam jumlah banyak dan siap menambah apabila terjadi kekurangan.

’’Insyaallah tidak akan kurang, kalau memang kurang saya tetap akan mengusahkan supaya didatangkan lagi. Kebetulan pengirimnya saya sudah kenal dan bisa mendatangkan kapan saja sesuai kebutuhan,’’ jelas Machrus.

Lebih lanjut dijelaskan, semua yang dilakukan oleh pihaknya dan takmir masjid semata-mata ibadah. (Nur Khaeruddin-52) (/)
Harian Suara merdeka 

Tuesday, September 16, 2008

Ramadan Nuansa Nabawi di Masjid Al Fairus (1)



  • Sajikan Menu Takjil Kurma dan Air Zam-zam


MASJID Al Fairus di Jalan Raya Pantura Baros, Pekalongan Timur disebut-sebut bangunannya mirip dengan Masjid Nabawi. Tak hanya itu, nuansa ramadannya juga tak jauh berbeda dengan masjid kebanggaan umat Islam se-dunia di Madinah tersebut serta jarang dijumpai di tempat-tempat ibadah lainnya.

Yayasan Al Fairus yang dipimpin H Abdullah Machrus itu memang sengaja membangun masjid dengan konsep bangunan Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan inspirasinya didapat saat menunaikan ibadah haji di tanah suci serta berkesempatan shalat di masjid tersebut.  

Karena itu, awal tahun 2000 di Jalur Pantura Pekalongan dibangun masjid mirip Masjid Nabawi. Sejak Ramadan tahun lalu sampai tahun ini, nuansanya di bulan penuh berkah dan ampunan tempat ibadah tersebut 

juga disesuaikan dengan aslinya, walaupun tidak sama persis.
Saat buka puasa tiba, takmir masjid menyediakan hidangan pembatal ibadah wajib dengan menu berbeda dengan masjid atau mushala lainnya. 

Di tempat lain biasanya berupa kolak, minuman manis dan sebagainya khas Ramadan, tapi di Masjid Al Fairus disediakan kurma serta air zam-zam yang didatangkan langsung dari negara asalnya.

Menurut H Abdullah Machrus yang juga pemilik Batik Mahkota Agung, sebelum datang bulan Ramadan, dia memesan air zam-zam dari Makah dan buah kurma dari Madinah. 
Karena tahun lalu sudah pernah memesan dalam jumlah banyak, tahun ini kebutuhan takjil tersebut bisa didapatkan dengan mudah.

Untuk bisa memenuhi kebutuhan selama sebulan, telah disediakan 30 galon air zam-zam dan 100 kg buah kurma. Jumlah tersebut melihat kebutuhan tahun lalu sebanyak 27 galon zam-zam serta 90 kg kurma.

50-100 Orang

”Memang kami sengaja membuat masjid ini seperti Nabawi, baik dari bangunan maupun kebiasaan, seperti saat Ramadan menyajikan menu takjil zam-zam dan kurma. Karena tahun lalu sudah dimulai, sekarang kami sudah dapat memperkirakan kebutuhannya dengan melakukan penambahan jumlah karena antusiasme masyarakat besar,” katanya.

Jika terjadi kekurangan, Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengaku akan mendatangkan lagi karena sudah mengenal pengirimnya dan dapat dihubungi melalui telepon.

”Insyaallah tidak akan kurang, kalau memang kurang saya tetap akan mengusahkan supaya didatangkan lagi. Kebetulan pengirimnya saya sudah kenal dan bisa mendatangkan kapan saja sesuai kebutuhan,” tandas dia.

Untuk sehari selama bulan Ramadan ini, takjil disediakan untuk 50-100 orang dan jumlahnya akan ditambah saat terjadi arus mudik Lebaran karena banyak yang mampir lantaran lokasinya berada di jalur Pantura serta tak jauh dari terminal Pekalongan. 

Agar pendirian masjid sesuai dengan konsep, maka tradisi takjil rasa Nabawi akan diusahakan dapat dilangsungkan secara terus menerus. ”Niatnya hanya satu ibadah menyediakan buka puasa ringan untuk umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Hanya saja disesuaikan konsep,” ungkap dia.(Nur Khaeruddin-17)
(/
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook

agi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com